Jumat, 16 Juli 2010

Kenang Itu di Keningku

kenang itu di keningku
kemarin senja

langkah kita masih bercanda

menuju persilangan
sebuah perpisahan

kemarin

masih terasa kecupan
di dahi dan pipi, merona
sebuah hentian yang kerap

kini

bahasa di tubuhmu lenyap
terguyur hujan sepagian
hanya tersisa genangan

sayang, tengok lagi kelak

setelah ia bernama
masa lalu


di langit petang jakarta wajahku mengambang






IG

Wajah Lelaki

ada kisah rembulan buta meninabobokan kekinian
lalu tanpa ragu melompati garis demarkasi di depan
lena oleh rayuan dan buai lolongan makhluk malam


hanya tuk cecapi sebuah kisah roman picisan

bukan seperti kisah cinta rama dan shinta
cukup sesaat instan dan terlupakan


"sayang, maaf aku miliki banyak kunci keinginan" itu nalarmu


ada rakrak berkunci yang tersimpan dalam bilikmu

saat kau buka biru tuk kunci si merah jambu
juga saat kau butuh jingga maka marun kau ikat
atau hijau kau pinang, kemuningpun kau sekap


"buatku tak penting, cukup ada aku, kau dan kita saja. bawalah ribuan tekateki dan jangan kau bagi" ujar keacuhan



lalu kemballi kita pada sandaran bahu masingmasing

seolaholah tetap utuh terengkuh
dengan melipat lembaran dusta



hai lihat!
ada wajah lelaki tak berpenghulu di antara kedua bibirmu







IG Kembara

Titismu Puisiku

Kau bilang, senja tlah retak, terkoyak.
Lalu sekarat.

Kubilang, nikmat. Dengan sayatan belati katakata.

Kau lihay, memainkan puisi, meramu racun di antara lekukan hurufhurufnya.
Mata aksaramu menghujam, sukma.
Aku terperdaya, terseret pusaran ilalang. Hingga hilang, kesadaran.
Saling candu tanpa rupa. Lalu degupdegup liar mulai bersenyawa. Siap menghakimi jiwajiwa kita.


“Sayang, jejakmu semalam menyisakan tangis tertahan. cukup sunyi semenit tertanggal, di antara riuh tepuk tangan, yang tak lelah mengungkap kebahagiaan. klimaks kita mencapai langitlangit malam. hingga cipta butirbutir perasan, yang gugur satu satu di halaman. lalu degup malam berpijar pada kesunyian. meruang pada kepekatan hitam biji matamu. lihatlah masih ada sisa anomali cintamu melompatlompat di retina, hatiku”



Kini kita saling mengejar haru, gelisah.
Lalu slokisloki di tangan, kian resah.
Tak sabar tuangkan kembali, agar kita mabuk.
Terlupa, kenyataan tentang liurliur mimpi semalam.
Walau kita tau, tak punya hak mengaminkan sgala perumpamaan.


Kekasih,
kau beri aku ruh, tetesan tinta sunyi.
Dengan pena rusuk, sisi kiri.
Ada titismu di tiap puisi, dari rahim kuncup melati.



------------------------


@kau ingin kenangan
maka kuberi angan, kupahat pada kening malam


@ada wajah rapuh terbayang di pekat kopi hitam siang ini,
kecewa serupa getir tlah kutelan manis.
walau lambungku meringis...
ada gegap di pelupuk mata kelam
jejakmu tak tereja semalam

kauku rindu...




IG Kembara

Si Mbah Jakarta

banyak deru tertata
di atas roda kemajuan
di bawah kaum pinggiran
di tengah dera himpitan
dengan kukukuku macan
mengoyak pemerataan
menindih kemanusiaan

solekanmu tebal dengan
topengtopeng gemerlapan

gincumu memerah serupa
darah segar penindasan
oknumoknum penertiban

ada ongkos mahal yang terbiarkan
dengan tumpukan dakidaki moral
hingga si tole dan genduk
hanya tunduk dan manggutmangut
di pojokan etalaseetalase menunggu
tuan nyonya membayar belas kasihan

duuh mbah
susurmu habis ya..
toko mereka tutup di pasar
yang kemaren dibakar

duuh mbah
kembang setamanmu tiada
pedagang asongan tergusur
malmal dan temboktembok tiran

duuh mbah
lapangan tempat bermain bola
jadi bagus tak kena hujan
tapi lupa gimana riuhnya
main jungkatjungkit di taman

duuh mbah
miris kalo musim hujan dan angin topan
rumah tepi kali habis jadi sungai dangkal
juga abrasi pantai mulai tampar kewaspadaan

tak apa mbah
kami biasa dengan keputusan
berbayar pekerjaan rumah tuantuan
yang tak pernah tamat dari buku agenda
hingga dunia melupakan kapan kami ada



selamat ulang tahun mbah..
ngupi dulu kata mbah surip



IG Kembara

Wajah Bapak Ibu

Wajah bapak seperti mengutuk dan mencaci pilihan jempol kita. Sesal itu memberi luka dengan guratan bara.

Luka bukan bekas cakar Garuda, atau guratan keris pangeran Diponegoro yang tersimpan beku di museum jadi jejak benda purbakala.

Tapi luka oleh ulah anakanak yang terlahir dari rezim yang dipercaya.

Baru atau lama apa bedanya?

Tak ada dampak setelah orasi sanasini mengobral janji.

Hanya derita mayoritas menamparnampar wajah ibu pertiwi.

Dengan kasuskasus jelas tak kusut yang tak tuntas tuk diusut.

Sementara perutperut bayi tak lagi bisa terurus. Dibiarkan busung lapar. Mengemis di perempatan di bawah jembatan layang. Hingga preman dan calo saling rebutan lahan.

Gugatmenggugat hanya biasa didengar seperti membaca running teks berita di televisi.

Datang dan pergi seperti lalulalang orang di dalam angkutan kota menunggu tarif disesuaikan.

Lalu temanteman kecilku, tak bisa mudah bersekolah. Melupakan bahagianya dongeng sebelum tidur tentang Cinderella, Timun Mas atau Gatotkaca.

Bangkubangku mereka hanya batu di pinggir kali. Guru mereka menekuni dengan hati. Walau gaji hanya cukup beli teri.



Disini aku anak kecil ini, hanya bisa diam tak bisa menerka esok jempol ini berkata apa?





IG Kembara

Pelacur di antara Sepasang Kakimu

pagi ini saat senyum matahari merekah. kita bukan temui basabasi juga hangat sapa berlalulalang di pintu kamar, seperti tak hendak menyatu


debar rindu yang melindu di dada tlah lengang meniada, lalu jeda pergi menyapa lainnya






adalah kau yang selalu mengatur ubah birama ketidakan menjadi hymne pemakluman pada kewajiban atas hawa istri adam



disini aku tlah lelah merapih remahan crystal hati yang lantak, lalu serpihannya meneteskan getir anyir di dalam lingerie kepatuhan



mungkin aku hanya seperti pelacur diantara sepasang kakimu






ruang kelu
IG


Senin, 14 Juni 2010

Ku Ketuk di Bening Keningmu


saat matahari setengah langkah menjala
tak kan temuiku didentingan dawaimu
biarkan jarak menyeret tiadaku
wajahku tak mengiris kerlingan bawang


"pergilah wanita bodoh!" itu ragumu retak mengucap


di punggungmu. rusukku tlah lelah mengabu
lamat-lamat deritan pintu panggilanmu, merayu
seperti auman keledai mengigau rindu

tapi sungguh palu tlah ku ketuk di bening keningmu
setitik pesanpun tak ku tanggalkan di ruang tamu


dan ku daki karang, melenggang tanpa hendak seliang dengan keluhan






bilik sunyi
IG
02 April 10